Profesionalnya Perawat

Seringkali kita mendengar frase kalimat demikian : “ seharusnya perawat itu profesi yang sejajar dengan dokter” atau lagi begini “ perawat itu bukan pembantu dokter” atau “perawat seharusnya menjadi rekan kerja dokter” dan lagi “perawat memiliki bidang ilmu tersendiri”trus “ perawat memiliki kewenangannya sendiri”. Beberapa frase di atas berakar dari “ketidakpuasan “ terhadap “penampilan profesional “ perawat sekarang ini. Ada yang berpendapat perawat sedang mencari “jatidiri”. Tentu saja ini bagi orang-orang yang masih tidak memahami apakah perawat itu.
Pertanyaan ini akan terjawab jika kita dapat menangkap apa “Otonomi / Kewenangan Profesi Perawat”.
Sebenarnya tidak penting apakah profesi atau tidak profesi, pembantu atau majikan, atasan atau bawahan, rekan atau saingan, semuanya pada akhirnya akan dimintakan pertanggungjawaban kepada DIA atas segala yang telah profesi lakukan……kepada sesama.
“Otonomi “ atau memiliki kewenangan tersendiri merupakan salah satu dari sekian banyak ciri suatu profesi misalkan : altruistik, kode etik, pendidikan tinggi, organisasi profesi, kompetensi, hukum, dsb.
Mari kita bahas bahwa perawat adalah suatu profesi yang memiliki kewenangan / otonomi profesi tersendiri.

Ilustrasi berikut akan menggambarkan dengan baik :
Misalkan :
Ada pasien datang ke rumah sakit dengan “penyakit jantung”. Apabila pasien ini tidak ditolong ia akan mengalami komplikasi lebih lanjut misalkan : disrithmia, gagal jantung, edema paru, kerusakan multiple organ, syok, bahkan kematian.
Untuk menangani dan mencegah komplikasi lebih lanjut penyakit itu perawat tidak memiliki wewenang untuk membuat pesan-pesan utama (primer) mengatasi / mencegah komplikasi. Pesan-pesan utama diperoleh dari dokter. Bagi perawat, Carpenito salah satu ahli di bidang keperawatan menyatakan ini sebagai “Masalah Kolaboratif”.
Lalu apa masalah mandirinya / otonom sehingga perawat bisa memesan tindakan-tindakan utama (tindakan primer) secara mandiri?
Pasien jantung ini mengalami berbagai respon terhadap kondisi sakitnya misalkan :dia cemas, tidak bisa makan karena mual, terganggu pembuangan urine karena gangguan perfusi, dia berduka karena sakitnya, dia kesepian, distress spiritual, koping yang keliru, dan masih banyak lagi sehingga satu halaman artikel ini tidak akan cukup menggambarkan berbagai macam respon mereka karena sakitnya.
Dia perlu “Caring Person”.
Perawat = “Caring Person”
Seorang / sekelompok orang yang selalu ada di dekat pasien.
Menolong mereka, mengarahkan koping mereka menjadi lebih positip tentang respon mereka terhadap penyakit / perubahan kehidupan.
Memudahkan mereka mendapatkan akses kepada obat-obatan, nutrisi, cairan, pertukaran gas, suhu yang optimal, pengeluaran zat – zat sisa,dsb yang diperlukan untuk kesehatan yang lebih baik.

Seseorang yang dapat menjadi jendela dari kebuntuan emosional akibat duka dan kecemasan, memperlebar lapang persepsi sehingga dapat membuat pilihan-pilihan yang lebih baik.
Seseorang yang dapat membawa damai, ketentraman, dan ketenangan meski menghadapi saat-saat yang sulit.
Bahkan jika mereka harus menghadapi kematian, mereka akan mati dengan damai, bahkan tertawa…..kematian dikalahkan.
Itulah “Caring Person” atau “Perawat”.
Semoga ilustrasi di atas menjelaskan sekarang. Perawat atau Caring Person, adalah profesi tersendiri, memiliki otonomi profesi sendiri, memesan intervensi-intervensi tersendiri, yakni memampukan individu untuk mengakses terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka akan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik.
Jadi jangan tunda obat-obat yang dipesan. Jangan tunda pesan-pesan dari tim kesehatan lain. Kecuali atas alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara legal. Itu semua untuk menolong individu memperoleh kebutuhan mereka akan akses kepada kesehatan yang lebih baik.
Perawat bukan pembantu, tetapi penolong (helper).
Para dokter seyogyanya berubah juga paradigmanya tentang perawat. Mereka bukan pembantu dokter. Dengan perubahan paradigma dokter akan lebih menolong perawat , mendorongnya lebih optimal sebagai “Caring Person”. Sebaliknnya perbedaan paradigma antara perawat dan dokter dapat membuat suatu hal yang aneh, bahkan lucu, gesekan etis, dan ketidaknyamanan yang lain yang tidak diharapkan.
Semoga artikel ini dapat memberi pencerahan, dorongan bagi Perumbuhan Profesional Perawat RS. Baptis Batu.
Really Nurse, Really Caring.
Kiranya Tuhan memberkati. Amien.

This entry was posted in Keperawatan Dasar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s